Insight Cara Mengaudit dan Mengevaluasi Campaign Iklan Online Anda

Editor’s Note: hai guys, thanks for coming to this site. Artikel ini saya coba ekstraksi dari beberapa sumber plus pengalaman pribadi juga sih ketika menjalankan sebuah campaign iklan. Baik itu di google search engine marketing, google display network, facebook ads atau juga instagram ads.

Seperti yang kita ketahui, di dunia digital marketing biasanya terbagi menjadi 3 jenis cara mendapatkan pengunjung.

  1. traffic yang bisa Anda control

jenis traffic pertama ini adalah jenis traffic yang selalu berbayar. Apapun itu, mau facebook ads, instagram ads, youtube ads, google search marketing, google display marketing dan lain sebagainya.

Konsep utamanya adalah, selama Anda memiliki uang, maka anda bisa mengendalikan jumlah traffic yang mengunjungi website anda. Sesimple itu.

  1. traffic yang tidak bisa Anda control

sedikit berbeda dari jenis traffic yang pertama, pada jenis yang kedua ini Anda biasanya akan mendapatkan visitor website yang tidak tahu dari mananya.

Bisa berasal dari facebook share orang yang membaca artikel anda, atau mungkin bisa berasal dari blog orang lain yang mereview tentang produk/bisnis Anda.

Pada intinya, anda tidak bisa mengontrol siapa yang merefer website anda. Contohnya adalah blog review, youtube channel review, facebook posts referral dan semua hal yang bentuknya tidak bisa dikontrol.

  1. traffic yang anda Miliki

Jenis traffic source terakhir adalah jenis traffic yang Anda miliki. Maksudnya di sini adalah Anda memiliki control penuh terhadapnya.

Contohnya adalah list email dari customer anda, atau list email dari pembaca setiap blog anda. Subscriber youtuber, follower instagram, twitter dan facebook page anda.

Dari semua jenis traffic tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Plus, juga memiliki cara atau variable tersendiri untuk dievaluasi atau di improve setiap harinya.


Nah, pada artikel kali ini, kita akan focus pada tipe traffic yang pertama, yaitu traffic yang bisa Anda Kontrol dan bagaimana cara mengevaluasinya.

Sebelum menentukan bagaimana cara mengaudit atau mengevaluasi suatu campaign iklan itu bagus atau tidak, hal pertama yang perlu kita tentukan adalah objective dari suatu iklan itu sendiri.

Secara garis besar, ada beberapa objective suatu iklan;

  • meningkatkan awareness
  • meningkatkan sales
  • meningkatkan app installs
  • meningkatkan jumlah leads/ prospects
  • atau objective lainnya

suatu iklan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan awareness saja, otomatis akan memiliki variable ukur yang berbeda dibandingkan dengan iklan yang memiliki tujuan untu memperbanyak jumlah leads/prospek.

Dan hal yang perlu diingat di sini adalah, setiap platform biasanya memiliki settingan dan machine learning yang berbeda, namun apabila kita melihat pada top 2 advertising platform di dunia: Google Corp dan Facebook Corp., mereka memiliki dashboard dan juga sebutan yang mirip-mirip.

Case Study Mengevaluasi Iklan

Beriklan Di Facebook Platform

Sebagai contoh, saya memiliki akun iklan yang memasarkan produk skin care perawatan berjerawat Lavees Skin Health Care.

Campaign Objective: Meningkatkan awareness (Orang yang Melihat Iklan)

Jenis Iklan: Facebook Boost Page

Tampilan Iklan

Oleh karena tujuan saya adalah ingin meningkatkan awareness dengan variable ukur orang yang melihat iklan saya (impression), maka saya sangat concern terhadap jumlah orang yang melihat iklan tersebut (jumlah impression).

Dan variable di facebook yang harus dilihat adalah CPM (Cost Per Mille) yakni seberapa besar biaya yang saya keluarkan apabila ada 1000 impression atau 1000 orang yang melihat iklan tersebut.

Semakin murah CPM, makan akan semakin bagus iklan tersebut. Apabila kita lihat di facebook ads dashboard maka akan seperti ini:

dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa jumlah reach nya adalah 4.272 yakni menjangkau 4727 orang dan biaya yang dikeluarkan untuk menjangkau 1000 orang adalah Rp4.032.

maka angka CPM Rp 4.032 inilah yang menjadi tolok ukur pengiklan apakah suatu iklan itu bagus atau tidak. Dan biasanya pengiklan memiliki patokannya sendiri, misalkan target saya CPM nya harus di bawah Rp500, makan tugasnya adalah men-tweaking kembali iklannya supaya CPM nya bisa sesuai dengan yang ditargetkan.

Beriklan di Google Search Network

Google search network adalah tempat beriklan yang nantinya iklan tersebut akan muncul pada pencarian search engine Google.

Sebagai contoh ada seseorang yang mencari cream jerawat di google, lalu akan mucul hasil pencarian seperti ini:

Dari gambar tersebut, kita bisa melihat bahwa ada iklan dari Tokopedia.com, ini adalah contoh dari google search network ads.

Nah bagaimana sih kalau kita ingin mengevaluasi iklan di google search network ini?

Pola dasarnya tetap sama saja seperti sebelumnya, tentukan dulu apa objective utamanya baru bisa ditentukan variable yang diukurnya. Untuk lebih jelasnya, yuk lihat contoh berikut ini.

Sebagai contoh, saya juga mengiklankan produk yang sama yaitu perawatan wajah berjerawat Lavees Skin Health Care.

Lalu saya membuat halaman landing page: https://creamjerawatonline.lavees.co.id/

Campaign Objective: Meningkatkan Jumlah Sales Obat Jerawat

Jenis Iklan: Google Search Network

Tampilan Iklan

oleh karena tujuan saya adalah meningkatkan jumlah sales dari produk perawatan wajah berjerawat, maka hal yang saya ukur dari iklan ini adalah seberapa banyak “CONVERSION” yang dihasilkan dari iklan ini.

Di Google sendiri, kita bisa men­-tracking secara real time seberapa banyak jumlah conversion yang terjadi, plus CPC (cost per conversion) atau berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu conversion.

Pada contoh kasus ini, disebut 1 conversion adalah apabila ada 1 orang yang klik tombol chat whatsapp untuk konsultasi di halaman website: https://creamjerawatonline.lavees.co.id/

Apabila kita lihat di Google Ads Dashboard, maka tampilannya akan seperti ini:

dari dashboard report tersebut kita bisa lihat, ada total sekitar 2.668 orang yang mengklik iklan dengan conversion rate 0.26%.

ini artinya dari 2.668 orang yang mengklik iklan dan mengunjungi halaman website kita, hanya ada 0.26% nya saja atau sekitar 7 orang yang klik untuk konsultasi whatsapp ke customer service.

Selain itu, kita bisa juga melihat bahwa cost per conversion atau biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan 1 pembeli adalah 306 ribuan, ini cukup besar.

Nah karena tujuan kita adalah konversi, maka variable ukurnya diantaranya adalah conversion rate dan juga cost/conversion.


Sudah paham? 🙂

Atau masih bingung? Tenang, memang akan membingungkan di awal, saya dahulu juga mengalami hal itu.

Itu terjadi hanya karena ada banyak sekali glossary atau kosa kata yang asing atau baru.

Nah, hampir di semua platform beriklan, baik itu facebook, instagram, youtube, google, bing atau mungkin yahoo ads. ke semua platform tersebut memiliki beberapa kemiripan-kemiripan platform.

Jadi apabila Anda sudah terbiasa dengan salah satu platform beriklan saja, saya rasa akan mudah untuk beradaptasi dengan platform lainnya.

Glossary atau Kosa Kata yang Perlu Diketahui

CPC (Cost Per Click) : biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan 1 klik

CPM (Cost Per Mille) : biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan 1.000 impresi

Cost per Conversion : biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan 1 konversi (bisa berupa klik tombol, atau 1 penjualan)


Terima kasih ya sudah membaca sampai sini. Apabila kamu merasa ada manfaat dari artikel ini, please do comment below, because your comment is my oxygent ^_^

Cheerio

(Visited 230 times, 1 visits today)

Leave a Reply